Kembali ke daftar berita
Sejarah Bandrong Pencak Silat Bandrong Bag. 1 Sejarah

Sejarah Bandrong Pencak Silat Bandrong Bag. 1

18 Maret 2026 00:00 Admin

Pencak silat BANDRONG adalah merupakan bagian penting sejarah dan budaya Banten yang asli.

Pencak silat BANDRONG adalah merupakan bagian penting sejarah dan budaya Banten yang asli.

Dikisahkan pada jaman dahulu kala sewaktu Sultan Maulana Hasanuddin dinobatkan menjadi sultan di Banten, beliau mempunyai seorang Senopati atau Patih yang ber nama Kiayi Semar ( Ki Semar ), beliau berasal dari Kampung Kemuning Desa Telagaluhur. Sang Patih pada setiap hari Jum'at, selalu memohon izin kepada Sultan untuk kembali kekampungnya karena pada hari tersebut ia berdagang daging kerbau di Pasar Balagendong Desa Binuangeun (dulu Kecamatan ).

Pada suatu hari ketika Ki Semar sedang berjualan dilapaknya tiba-tiba datanglah seseorang yang akan membeli dagangannya, orang itu bernama Kiyai Asyraf ( ki Sarap) tujuannya membeli limpa atau sangket. Tapi oleh Ki Semar keinginan si pembeli disepelekan karena dianggapnya orang miskin tak akan mampu membeli sangket yang harganya sangat mahal, padahal Ki Sarap sebenarnya sangat ingin untuk membelinya. Karena Ki Sarap memaksa untuk membeli sedangkan Ki Semar tetap bertahan tidak mau menjualnya, sehingga suasana menjadi tegang, kemudian terjadilah pertengkaran mulut, dan akhirnya terjadilah bentrokan fisik
kombinasi, sodok dan seribu satu langkah telah di keluarkannya.

Tapi Ki Semar juga sama tangguhnya, setiap kali terkena benturan pukulan keras Ki Sarap. setiap kali itu pula benturannya mengeluarkan suara seperti gendring dan juga mengeluarkan kilatan api dari tubuh Ki Semar, begitu pula ki Sarap vang tangguh, beliau menguasai ilmu PENCAK SILAT BANDRONG, tubuhnya sama sekali tak dapat disentuh oleh serangan-serangan Ki Semar yang datang beruntun seperti air bah.

PENCAK SILAT BANDRONG sangat ampuh, sebab dalam langkah dan jurusnya. terdapat banyak versi dan variasi pukulan, mampu berkelit dari pukulan atau tendang an musuh. bacokan golok, tusukan pisau atau senjata apa- pun, seorang pesilat Bandrong akan dapat berkelit dengan sangat indah. licin dan gesit luar biasa, bahkan serangan baliknya sangat membahayakan bagi lawan-lawannya. Semakin keras serangan musuhnya, semakin keras pula jatuhnya, bahkan pesilat Bandrong dapat menawarkan kepada musuhnya, ingin jatuh terlentang atau telungkup atau terpelanting, hal seperti ini akan akan membuat musuh musuhnya kewalahan. Peristiwa itu memang luar biasa, keduanya ternyata sama-sama sakti Ki Semar sangat kebal pukulan, Ki Sarap sangat licin bagai belut dan tangkas menyerang seperti ikan Bandrong yang melesat terbang dan menukik.

Ketika alam mulai gelap mendekati waktu maghrib, tiba-tiba Ki Sarap menghadapkan tubuhnya ke arah Qiblat kepalanya menengadah ke langit bermunajat dan istighosah, setelah selesai berdo'a terlihat olehnya kakaknya yang tangan Ki Sarap dikelit ditekuk kebelakang punggung, dan dengan angkuh serta melecehkan, Ki Semar mengatakan barang daganganku ini". "Tak mungkin orang miskin seperti kamu mampu membeli. Ki Sarap sangat marah di sebut sebagai orang miskin
tapi dia diam saja menahan amarah karena kejadian tersebut di tempat umum. Akhirnya dia pulang dengan tangan hampa tanpa membawa sangket yang di inginkannya, saat itu fikiran nya dipenuhi perasaan tersinggung oleh ucapan Ki Semar yang sangat menyakitkan hatinya, kemudian rencana untuk menghadang Ki Semar dalam perjalanan pulang kerumahnya nanti.

Timbulah, sekitar pukul 10.00 siang ketika itu para pedagang di pasar mulai bubar dan Ki Semar mulai beranjak pulang menuju rumahnya di Kampung Kemuning, ia berjalan ter geas-gesa karena pada hari itu ia harus mengejar sholat Jum'at berjamaah. Di tempat yang sepi antara Balagendong dan Kampung Kemuning, tiba-tiba muncul Ki Sarap ditengah jalan menghadang Ki Semar, saat itu Ki Sarap yang hatinya sudah basa-basi lagi langsung menyerang, Ki Semar berusaha membela dirinya sehingga terjadilah adu kekuatan ilmu dan kemonesan.

Kemudian, masing-masing mengeluarkan ilmu ketangkasan dan kehebatannya, memang mereka berdua sama-sama kuat, tangkas dan sakti kanuragan. Perkelahian antara keduanya itu berlangsung sejak jam 11.00 siang sampai jam 18.00 sore menjelang maghrib, Ki Sarap telah mengeluarkan seluruh kemampuannya, semua jurus. kelit, seliwa kurung, lima pukul, sepak. Ki Ragil sedang duduk di pelepah pohon aren yang tinggi, agaknya sudah lama dia memperhatikan pertarungan adiknya.

Melihat itu Ki Sarap pun berteriak: “ Kakak ! sudah sejak pagi hingga sore aku bertarung melawan orang ini, tapi belum ada yang kalah". Ki Ragil pun bertanya: " Apa kamu sudah lelah atau kewalahan ?. hai adikku, ini ambilah golokku, tebaslah leher musuhmu ". ujar Ki Ragil sambil men jatuhkan goloknya.

Kemudian Ki Sarap mengambil golok itu dan menebas leher Ki Semar. dengan sekali tebas kepala itu terpental puluhan meter, lalu kepala itu berputar sepereti gasing kemudian menghunjam kedalam tanah. Hingga saat ini tempat kepala terkubur itu yaitu dipinggir sungai ditepi hutan antara Balagendong dan Kampung Kemuning, menjadi tempat yang sepi, kabarnya tempat itu sangat angker dan erit ( banyak gangguan mahluk halus) hingga sekarang ini.

Usai sudah pertandingan hebat itu yang dimenangkan oleh Ki Sarap, kemudian masyarakat yang menyaksikan adu kekuatan itu, segera mengangkat tubuh Ki Semar vang tanpa kepala, dibawa kekampung untuk diurus sebagaimana mesti nya dan kemudian dimakamkam di Kampung Kemuning Desa Telagaluhur.

Tersiarnya kabar tentang kematian Ki Semar yang saat itu menjabat sebagai Senopati Tanah Banten, merupakan berita yang sangat menghebohkan dan berita itu dibicarakan dihampir semua tempat orang berkumpul sambung me hingga akhirnya sampailah kepada Sultan Maulana Hasanuddin di Banten