Kembali ke daftar berita
Sejarah Bandrong Pencak Silat Bandrong Bag. 2 Sejarah

Sejarah Bandrong Pencak Silat Bandrong Bag. 2

18 Maret 2026 00:00 Admin

Mendengar berita itu Sultan sangat terkejut dan marah. kemudian beliau memerintahkan kepada para punggawanya untuk menangkap Ki Sarap yang dianggap sebagai pembunuh Ki Semar Sang Senopati Banten. Sepasukan tentara lengkap segera diberangkatkan ke Gudang batu menangkap Ki Sarap untuk kemudian dihadapkan kepada Sultan karena akan di adakan pengusutan lebih lanjut tentang pembunuhan itu.

Selanjutnya atas perintah Sultan Banten, Ki Sarap di masukkan kedalam penjara dan akan dihukum mati di tiang gantungan. Selama berada didalam penjara Ki Sarap selalu bermunajat meminta tolong kepada Allah SWT untuk mendapatkan perlindungan Nya, disamping itu ia juga mengamalkan ilmu asihan nya (Aji-aji Pengasih ) agar dia diampuni dan dikasihani oleh Sultan Maulana Hasanudin. Berkat pertolongan Allah SWT, aji-aji pengasih Ki Sarap bukan hanya berpengaruh kepada Sultan, tapi juga
menjangkau hati sanubari Permaisuri Sultan Maulana Hasanuddin.

Dalam suatu musyawarah mengenai hukuman yang akan dijatuhkan kepada Ki Sarap, Permaisuri Sultan mengemukakan pendapatnya bahwa hukuman mati untuk Ki Sarap sangat tidak tepat, alasannya:

  1. Ki Sarap dan Ki Semar bertarung mengadu kesaktian, dan yang hidup adalah karena membela diri sendiri berarti hal itu bukanlah pembunuhan
  2. Kerajaan Banten sangat membutuhkan orang-orang yang gagah berani, kuat dan banyak ilmunya seperti Ki Sarap untuk menghadapi musuh yang lebih besar lagi.

Hal ini jelas Ki Sarap lebih kuat dengan berhasilnya dia mengalahkan Ki Semar yang saat itu menjabat Senopati Banten. Dengan adanya usul Permaisuri itu. Sultan tidak
langsung menerima begitu saja, tapi saran itu direnungkannya lagi dan di musyawarahkan bersama para pembantu Sultan yang lainnya, dan akhirnya pendapat permaisuri itu dibenarkan dan dapat di terima oleh Sultan.

Selanjutnya Ki Sarap dipanggil menghadap Sultan Hasanudin dan dijelaskan oleh Sultan bahwa hukuman mati untuknya dibatalkan kemudian Ki Sarap diberi tugas untuk menggantikan Ki Semar sebagai Senopati Kesultanan Banten dengan svarat harus mau melalui ujian ketangkasan vaitu menembak anting-anting (gegombel) tudung permaisuri Sultan tanpa melukainya sedikitpun.

Persyaratan tersebut diterima oleh Ki Sarap, walau pun dia tahu resikonya sangat tinggi mengingat dia bukanlah seorang ahli dalam hal menembak. Ki Sarap meminta waktu selama tiga hari sebelum ujian tersebut dilaksanakan, ia memohon izin agar diboleh kan pulang ke kampungnya di Gudang batu.

Setelah sampai di kampungnya, Ki Sarap segera menghadap kepada kakaknya vaitu Ki Ragil dan memberi tahukan masalah vang sedang dihadapinya, maksud Ki Sarap
menceritakan halnya untuk meminta petunjuk atau bantuan saran dari kakaknya. Ki Ragil mengatakan: "Pergilah dan bawalah benda ini untuk di masukkan kedalam senapan saat pelaksanaan ujian itu nanti ".

Kemudian Ki Ragil memberi beberapa petunjuk tata cara menembakan senjata sebagai berikut:
"Kalau Sang Permaisuri berada didaerah timur menghadap ke arah Barat, berbaliklah ke arah yang sama dan arahkan senapanmu ke arah barat pula, dan jika permaisuri
di arah utara menghadap keselatan, maka kamupun harus demikian pula arahnya".

Setelah semua pesan Ki Ragil dapat dimengerti dengan sebaik-baiknya, maka Ki Sarap memohon do'a dari kakaknya untuk segera kembali menghadap Sultan Hasanuddin di Banten.

Sore hari itu Ki Sarap telah sampai di Banten dan langsung menghadap Sultan. Saat itu Sultan Maulana Hasanuddin tercengang kagum dan gembira menyaksikan sikap Ki Sarap yang konsekwen dengan permitaan izinnya untuk pulang hanya tiga hari, itupun ditepatinya dengan baik. Pada hari yang telah ditentukan, tibalah saat yang dinanti-natikan oleh seluruh masyarakat Banten, karena pada hari itu Sultan akan menguji ketangkasan seorang calon Senopati Banten.

Di alun-alun Kesultanan Banten, sejak pagi hari masyarakat sudah memenuhi arena tempat pengujian, mereka sangat antusias untuk menyaksikan peristiwa yang sangat menegangkan dan hal ini mereka anggap peristiwa langka karena belum pernah terjadi. Di tengah alun-alun sang Permaisuri duduk di kursi yang berada disebelah timur menghadap ke arah barat, dengan jarak sekitar 30 ( tiga puluh) meter, Ki Sarap berdiri berhadapan dengan Permaisuri. Kemudian Ki Sarap mulai membidikkan senapannya kearah sasaran, tapi secara tiba-tiba dengan gerakan yang cepat Ki Sarap membalikan tubuhnya ke arah barat, bidikan senapannya di tujukan ketempat yang kosong, dengan hati-hati dia menarik pelatuknya kemudian terdengarlah letusan senapannya.

Dan apa yang terjadi? Ternyata peluru vang ditembakkan tepat mengenai "gegombel" kerudung sang Permaisuri dan terdengar "pluk" suara gegombel yang jatuh ketanah tetapi Permasuri Sultan tetap di tempatnya semula tak tersentuh oleh peluru yang ditembakkan oleh Ki Sarap. Jatuhnya gegombel kerudung Permaisuri diiringi oleh
suara sorak sorai yang gemuruh dari seluruh masyarakat yang menyaksikannya. Tepuk tangan yang berkepanjangan menggambarkan kepuasan dan kegembiraan masyarakat karena mereka telah memiliki seorang Senopati baru yang gagah hebat dan tinggi ilmunya.

Permaisuri menitikkan air mata bahagia karena saran pendapatnya sudah menjadi kenyataan bahwa Kesultanan Banten kini telah diperkuat oleh seorang Senopati sakti yang berasal dari daerah Gudangbatu yaitu Ki Sarap. Kemudian Ki Sarap diberi gelar kehormatan yaitu SENOPATI NURBAYA. Senopati Nurbaya yang kemudian di kenal dengan sebutan ki Nurbaya menjalankan tugas utamanya meng amankan wilayah Laut Jawa, terutama Teluk Banten dan Pelabuhan Karangantu.

Beliau bermarkas di " BOJO-NAGARA " untuk menghadapi para bajak laut yang mereka sebut BAJAG-NAGARA, para bajak laut itu bermarkas di Tanjung Bajo dan biasanya hasil rampokan mereka disembunyikan atau ditunda dulu di "Pulo Tunda " sebelum dibawa ke daerahnya masing-masing. Kini tempat-tempat tersebut menjadi terkenal dan namanya dikekalkan dengan peristiwa yang terjadi disana dan kini menjadi nama vang mengandung kenangan, yang abadi.

Selama bertugas di Kesultanan Banten, Ki Patih Nurbaya atau panggilan lainnya adalah Ki Jagabaya atau Ki Jagalaut menjaga wilayah yang dikuasainya sehingga wilayah
tersebut menjadi aman tenteram tak pernah ada gangguan dari para pengacau terutama para bajak laut yang dulu berkeliaran menguasai Laut Jawa dan Teluk Banten. Karena tugasnya selalu menjaga laut, akhirnya nama Ki Sarap lebih populer dengan gelarnya "KI JAGABAYA" atau "KI JAGA LAUT ".

Dunia terus berputar sejarah berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan, lama juga Ki Jagabaya menjalankan tugasnya mengamankan daerah yang diamanatkan kepadanya.
Beliau memusatkan pertahanannya di Pulokali yang berasal dari PULO KALIH ( Pulau Dua ). Apabila beliau mengintai musuh dilakukannya dari puncak Gunung Santri
sebab dari tempat ini mudah baginya untuk melihat ke arah laut lepas, dapat melihat kapal yang datang dan pergi dari Bojonegara dan juga dapat berkomunikasi dengan Pulo Kalih dan Menara Banten.

Ki Jagabaya atau Ki Jaga Laut menggunakan isyarat-isvarat bahaya dengan cara seperti berikut :

  1. Apabila bahaya terjadi disiang hari mereka menggunakan sinar matahari yang dipantulkan melaluicermin.
  2. Apabila bahaya terjadi malam hari mereka menggunakan isyarat kobaran api unggun. Semua itu dilakukan dari puncak Gunung Santri dan dapatdipantau dari Pulo Kalih dan Menara banten.

Saat usianya menjelang senja, Ki Patih Nurbaya menyadari tentang pentingnya kaderisasi atau generasi penerus. Beliau berniat menurunkan ilmunya terutama ke tangkasan khusus yaitu ilmu beladiri PENCAK SILAT BANTEN yang disebutnya "BANDRONG ", ilmu itu secara khusus di turunkan kepada putera Sultan Maulana
Hasanuddin, selanjutnya para Ponggawa dan Prajurit dan murid-muridnya yang berada di Pulo Kalih dan Gudangbatu Waringinkurung. Selanjutnya pendidikan ketangkasan dan kedigjayaan itu dipusatkan di Pulo Kalih dan dibina langsung oleh kedua kaka beradik yaitu Ki Sarap dan kakaknya Ki Ragil. Disanalah mereka berdua menghabiskan masa tua nya, kemudian setelah dipanggil menghadap Tuhan nya, mereka berdua dimakamkan di pemakaman umum di daerah Kahal wilayah Kecamatan Bojonegara.

Hingga sekarang ini tempat itu dikenal dengan sebutan "MAKAM KI KAHAL " dan alhamdulillah sampai sekarang banyak masyarakat yang datang menziarahinya terutama
para pesilat Bandrong yang saat ini sudah menyebar di lima propinsi di Indonesia.

Demikian asal usul atau sejarah PENCAK SILAT BANTEN yang disebut " BANDRONG". Mengingat kesetiaan masyarakat di kawasan Gunung Santri, Gudangbatu dan Pulo Kalih terhadap Kesultanan Banten, maka diresmikanlah nama Bojonegara artinya Bojone
Negara (Isteri Negara). Sedangkan Ilmu Silat Asli Banten itu di beri nama BANDRONG, nama ini diambil dari nama jenis ikan terbang yang sangat gesit dan dapat melompat tinggi, jauh, atau dapat menyerang keras dengan moncongnya yang sangat panjang dan bergerigi tajam sekali, sehingga ia merupakan ikan yang sangat berbahaya, sekali serang dapat membinasa kan musuhnya.

Ki Patih Jaga Laut atau Patih yang selalu melanglang  buana menjaga laut, sangat menyukai dan sering memperhatikan ikan yang tangkas gesit ini dan juga jangkauan
lompatan jarak jauhnya, dan hal itu benar-benar mempesonanya. Sehingga akhirnya beliau mengambil nama ikan itu untuk memberi nama ilmu ketangkasan bela diri yang
dimilikinya dengan nama PENCAK SILAT BANDRONG karena tangkas gesit lincah dan berbahaya seperti ikan Bandrong.

Kisah ini diceritakan secara turun temurun sebaga ppesan kesetiaan Bela Negara bagi anak cucunya dan yang terakhir diceritakan oleh H. Sibli dari Gudangbatu dan
disusun oleh Tubagus Ahmad Tiek Chusaeni. Begitu solidnya ikatan perjuangan antara Banten, Gudangbatu dan Bojonegara, tak heran kalau garis per juangan ini berlanjut terus seperti dalam Peristiwa GEGER CILEGON 1888 M.